Rabu, 07 Mei 2014

Umar bin Khaththab RA, Dari Musuh Besar menjadi Pembela Utama Islam

            Kisah keislamannya ini berawal ketika tokoh-tokoh kafir Quraisy seperti Abu Jahal bin Hisyam, Uqbah bin Nafik dan lain-lainnya gagal membunuh Nabi SAW, sementara dakwah islam semakin meluas, dan beberapa orang sahabat berhasil hijrah ke Habsyi, dan beribadah dengan tenang di bawah lindungan Raja Najasyi. Sebagai jagoan terkuat di Makkah, Umar merasa harus ia sendiri yang membunuh Muhammad, yang dianggapnya telah murtad dan memecah belah kaum Quraisy serta memaki dan menghina agama nenek moyangnya. 
Umar berniat pergi ke rumah Al Arqam, tempat Nabi SAW mengajarkan Islam kepada sahabat-sahabat beliau. Di tengah perjalanan ia bertemu Nu'aim bin Abdullah, yang menanyakan kepergiannya dengan pedang terhunus. Begitu mengetahui niatnya untuk membunuh Rasullullah SAW, Nu'aim justru mencela Umar, "Hendaknya engkau meluruskan urusan keluargamu dulu sebelum urusan Bani Manaf. Sesungguhnya adikmu sendiri Fathimah binti Khaththab dan suaminya yang juga anak pamanmu, Sa'id bin Zaid telah mengikuti ajaran Muhammad, merekalah yang harus engkau selesaikan urusannya."
Betapa geramnya Umar mendengar penjelasan Nu'aim bin Abdullah, dibelokkanlah langkahnya menuju rumah Sa'id bin Zaid dengan kemarahan yang memuncak. Saat itu, di rumah Sa'id juga ada Khabbab ibnu Aratt yang sedang mengajarkan ayat-ayat Al Qur'an pada mereka. Mendengar kedatangan Umar, Khabbab langsung bersembunyi, Sa'id membukakan pintu dan Fathimah menyembunyikan lembaran mushaf Al Qur'an.
Begitu melihat Sa'id, kemarahan Umar tidak bisa dibendung lagi, seolah kemarahannya kepada Nabi SAW ditumpahkan semua kepada adik iparnya tersebut. Dibentaknya Sa''id sebagai murtad dan memukulnya hingga terjatuh. Fathimah mendekat untuk membela suaminya, tapi dipukul oleh Umar pada wajahnya. Sungguh keadaan yang mengenaskan dan membahayakan bagi kedua suami istri tsb. Umar sudah menduduki dada Sa’id, satu pukulan telak dari jagoan Ukazh itu bisa jadi akan membunuhnya.
Namun tiba-tiba terdengar pekikan keras dari Fathimah, "Hai musuh Allah, kamu berani memukul saya karena saya beriman kepada Allah…! Hai Umar, perbuatlah apa yang engkau suka, karena saya akan tetap bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasullullah…!"
Umar tersentak bagai disengat listrik, pekikan itu seakan menembus ulu hatinya…terkejut dan heran. Umar bin Khaththab adalah seorang lelaki yang sering dilukiskan sebagai : "Jika ia berbicara, maka orang akan terpaksa mendengarkannya, jika berjalan, langkahnya cepat bagai dikejar orang, jika berkelahi maka pukulannya adalah pukulan maut yang mematikan."
Tetapi ternyata ada orang yang berani menentangnya, seorang wanita lagi, dan adiknya pula, kekuatan apa yang bisa membuatnya berani menentang kalau tidak kekuatan yang maha hebat, kekuatan iman…mulailah percik hidayah menghampirinya. Kemarahannya mereda, dimintanya lembar-lembar Al Qur'an yang dipegang Fathimah, tetapi sekali lagi jagoan duel di Pasar Ukazh ini seakan tak berkutik ketika adiknya tsb. Berkata dengan tegas, "Tidak mungkin, ia tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci! Pergilah, mandilahlah dan bersuci..!!”
Bagai anak kecil yang penurut, Umarpun berlalu, sesaat kemudian kembali dengan jenggot yang mengucurkan air. Diberikanlah lembaran mushaf yang berisi Surah Thaha ayat 1 - 6. Makin kuatlah hidayah Allah membuka mata hatinya. Setelah ayat-ayat tersebut dibacanya, meluncurlah kata-kata dari mulutnya, "Tidak pantas bagi Allah yang ayat-ayatnya sebegini indahnya, sebegini mulianya mempunyai sekutu yang harus disembah, tunjukkanlah padaku dimana Muhammad?"
Sebuah pernyataan yang menunjukkan perubahan sikap dan keyakinannya selama ini terhadap Nabi SAW. Khabbab bin Aratt pun keluar dari persembunyiannya dan berkata, "Bergembiralah Umar, sesungguhnya Nabi telah bersabda tentang dirimu, Beliau berdoa : Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar, Umar bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khaththab, dan engkau dipilih Allah untuk memperkuat Islam."
Khabbab mengantarkan Umar ke rumah Al Arqam di dekat Shafa. Di sana ia ditemui Nabi SAW, Beliau memegang ujung baju Umar dan berkata,  "Masuklah kamu ke dalam Islam wahai Ibnu Al Khaththab. Ya Allah, berilah hidayah kepadanya!"
Umar pun bersyahadat, maka bertakbirlah para sahabat yang hadir, dengan takbir yang bisa didengar hingga sepanjang jalan di kota Mekkah, bahkan juga sampai ke Ka.bah. Benarlah doa Nabi SAW, keislaman Umar mengguncangkan kaum musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka, tetapi sebaliknya memberikan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang muslim.
Tidak seperti muallaf sebelumnya yang umumnya menyembunyikan keislamannya, Umar sebaliknya. Diingatnya siapa yang paling memusuhi Nabi SAW, siapa lagi kalau bukan Abu Jahal. Umar mendatangi rumahnya dan menggebrak pintunya. Begitu Abu Jahal keluar, Umar memberitahukan keislamannya, Abu Jahal menutup pintu dan masuk kembali ke rumahnya. Begitupun ketika diberitahukan kepada pamannya, Al Ash bin Hasyim, dia justru masuk ke rumah. Biasanya mereka berdua ini kalau bertemu dengan orang yang masuk Islam, mereka menangkap dan menyiksanya.
Ketika kembali kepada Nabi SAW, Umar menginginkan orang-orang Islam untuk tidak sembunyi-sembunyi lagi karena menurut pendapatnya, mereka ini dalam kebenaran, hidup ataupun mati. Pendapatnya ini dibenarkan oleh Nabi SAW dan beliau menyetujui keinginan Umar. Beliau mengeluarkan orang-orang muslim dalam dua kelompok, kelompok pertama dipimpin Hamzah, yang telah memeluk Islam tiga hari mendahului Umar, dan kelompok kedua dipimpin Umar sendiri.
Orang-orang musyrik  hanya terpana tidak berani berbuat apa-apa seperti sebelumnya, tampak jelas kesedihan di mata mereka. Karena itulah Rasulullah menggelari Umar dengan Al Faruq, pemisah antara yang haq dan yang bathil. Sejak saat itu orang orang Islam bisa beribadah dan membuat majelis di dekat Ka'bah, thawaf dan berdakwah, serta melakukan pencegahan terhadap siksaan-siksaan.

Disunting dari : Umar bin Khaththab al Faruq RA, Khulafaur Rasyidin Ke Dua  
Blog : Percik Sahabat Nabi SAW, www.PercikSahabatNabi.Blogspot.com

Yusuf Islam (Cat Stevens), Menjelajah Keyakinan Menuju Islam

Berpetualang Dalam Keyakinan
Para pecinta dan penikmat musik pop dunia, khususnya untuk era 60-70an pastilah mengenal nama Cat Stevens, dengan salah satu lagunya yang terus melegenda sampai saat ini, “Morning Has Broken”. Lahir di Kota London, di jantung Negara Inggris, salah satu negara paling modern saat itu, Cat Steven tumbuh dalam lingkungan kristen yang sangat kental. Pendidikannya diselesaikan pada sekolah-sekolah Katholik. Ia sangat memahami ajaran kehidupan dan ajaran agama yang dipeluknya. Ia mengimani adanya Tuhan, Isa Almasih sebagai ‘anak Tuhan’, takdir, serta tuntunan jalan yang baik dan buruk. Gereja banyak mengajarkan dan menekankan pada dirinya untuk percaya kepada Allah, sedikit pada Isa Almasih dan mengurangi sedikit dari kepercayaan kepada roh kudus.
Sebagai garda terdepan kekuatan kristen sejak terjadinya perang Salib, yakni ketika Raja Richard, The Lion Heart menjadi komandan utamanya, Negara Inggris juga menjadi pioner liberalisasi dan kapitalisasi sejak terjadinya revolusi industri. Akibatnya, pola fikir masyarakat  menjadi sempit dan picik, segala sesuatunya lebih banyak diukur dengan materi semata-mata. Pada waktu itu mereka mengajarkan pada Cat Stevens dan generasinya, bahwa kekayaan adalah suatu kehormatan dan hak yang hakiki, sedang kemiskinan adalah suatu kekalahan total dan memalukan.
Akibat didikan yang kontradiktif seperti itu, ia menciptakan falsafah hidupnya sendiri, bahwa antara kehidupan (sehari-hari) tidak ada hubungannya dengan agama (pola fikir sekuler). Ia mewujudkan falsafahnya itu dengan mencontoh Amerika, ia dan orang-orang di generasinya beranggapan bahwa Amerika adalah suatu lambang kekayaan sekaligus kebebasan (kemerdekaan) yang nyata. Dan negara-negara dunia ke tiga di Asia dan Afrika adalah contoh dari kemiskinan, kesengsaraan, keterbelakangan, kebodohan dan kesesatan. Karena itulah Cat Stevens mencari jalan untuk menjadi kaya agar bisa hidup terhormat dan bahagia.
Mulailah ia merintis jalan untuk hidup sukses, dan ketika itu cara yang paling murah adalah dengan mempunyai gitar. Dengan bakat dan ketrampilannya, ia mulai menciptakan syair dan irama lagu melalui gitar, yang ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Dengan cepat namanya dikenal masyarakat, dan saat berusia 18 tahun ia telah mencetak delapan album lagu. Mulailah ia melakukan show di berbagai penjuru dunia, dan mengumpulkan banyak ketenaran, pujian, sekaligus kekayaan yang terus mengalir masuk ke koceknya.
Tetapi pada titik puncaknya itu, ia sering melihat keadaan mereka yang di bawah, yang miskin dan hidup dalam kesulitan, dan ia menjadi gamang dan khawatir. Ia takut kehilangan semuanya itu dan menjadi kaum yang di bawah. Sejak itu perasaannya menjadi tidak tenang, rasa was-was selalu merasuk dalam jiwanya. Dan sejak saat itu pula, ia mulai menenggak minuman keras hampir setiap harinya, untuk ‘menanggulangi’ kecemasan jiwanya. Minuman beralkohol itulah yang memberi semangat dalam karier dan hidupnya. Pada waktu itu ia merasa sepertinya semua orang. memakai topeng, mereka bersikap munafik untuk bisa menjual ‘dirinya’, untuk bisa mendapatkan keuntungan sesaat agar tetap hidup.
Ketika menyadari semua itu adalah sesuatu yang merugikan dan kejam, ia mulai membenci kehidupannya sendiri. Sedikit atau banyak, didikan rohaniah (kristen tentunya) ketika masih kecil mengusik hatinya. Karena itulah ia mulai menjalani kehidupan menyendiri, meninggalkan gegap gempita dunia entertainment yang telah memberinya banyak kekayaan dan ketenaran. Jiwanya terasa sakit tak terkendalikan, dan itu berdampak pada fisiknya. Ia dipindahkan ke rumah sakit dan ternyata ia mengidap penyakit TBC. Selama tinggal di rumah sakit, ia banyak memperoleh kebaikan karena mereka mengajarkan pada dirinya, bagaimana caranya berfikir secara positip, menatap kehidupan dengan cara yang lebih baik.
Setelah itu datang perasaan beriman kepada Tuhan, tetapi pengajaran gereja, baik yang diterimanya ketika masih kecil atau penjabaran para pendeta saat itu, tidak memberikan penjelasan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang bisa memuaskan perasaannya. Akhirnya fikirannya lumpuh untuk menjelaskan siapa Tuhan, atau apa itu Tuhan seperti yang pernah disebut-sebut di gereja ketika ia masih kecil dahulu.
Bagaimanapun juga, ketika ‘sentuhan dan panggilan’ Ilahiah untuk mengenal-Nya datang pada seseorang, ia tidak akan pernah berhenti mencari sampai memperoleh jalan memahami-Nya. Hal itu juga yang terjadi pada Cat Stevens, ketika akal dan logikanya lumpuh dan hanya menemui jalan gelap, ia mulai mengalihkan pemikirannya ke suatu cara hidup yang baru, ia mulai membaca berbagai macam kepercayaan dan pemikiran ketimuran, yang lebih mengedepankan kepada perasaan dan renungan daripada akal dan logika.
Ketika ia ‘kembali’ ke dunia nyata, muncul suatu perasaan akan adanya suatu ‘Tujuan’ tetapi ia masih tidak memahami apa tujuan yang datang padanya itu. Tanpa disadarinya, ia seringkali hanya duduk menyendiri dalam lamunan yang panjang. Mulailah ia berfikir untuk mencari kebahagiaan yang tak pernah didapatkan dari kekayaan, kejayaan atau kemashuran yang pernah diraihnya,  atau dirasakannya dalam kehidupan gereja.
Ia memilih untuk memeluk agama Budha dan juga mulai mendalami pemikiran Cina. Dari mempelajari dan memahami akan apa yang terjadi, ia berharap memperoleh kebahagiaan. Dengan adanya petunjuk dan isyarat akan terjadinya suatu peristiwa, ia berharap dapat menghindar dari suatu kerugian, kehancuran atau kejahatan. Tetapi berlalunya waktu, ia menjadi seorang yang berserah kepada keadaan dan mempercayai bintang-bintang. Ia juga percaya para peramal, tetapi kemudian ia merasa bahwa semua itu ternyata omong kosong belaka.
Semua yang dipelajari dan dijalaninya itu ternyata belum ‘memuaskan’ dahaganya, dan ia merasa belum sampai kepada ‘tujuan’ yang diharapkannya. Ia berpindah keyakinan lagi, dan ia memilih untuk menjadi seorang yang berfaham komunis. Logikanya menduga bahwa kebahagiaan akan terwujud jika kekayaan dibagi rata ke seluruh manusia di dunia ini, sebagaimana konsep komunisme, ‘Sama Rata Sama Rasa’. Tetapi lagi-lagi ia merasakan faham ini tidak selaras dengan naluri kemanusiaan, yakni keadilan. Keadilan itu bukanlah dibagi samarata, tetapi setiap orang berhak atas sesuatu sesuai dengan jerih payah atau usahanya. Bukannya setelah seseorang bersusah payah mendapatkan suatu hasil, kemudian dibagi rata dengan orang. yang. tidak bersusah payah atau bermalas-malasan saja untuk mendapatkan itu.
Akhirnya ia berkesimpulan (ketika itu belum mengenal Islam), bahwa tidak ada ajaran yang bisa memuaskan dahaga dan pencariannya, dan ia kembali pada kepercayaannya, yakni ke gereja. Bagaimanapun juga gereja masih lebih baik dari semua yang pernah ditemukan dan dipelajarinya selama dalam pencariannya itu. Ia kembali pada dunia musik dan mulai dari bawah lagi dengan ketetapan hati bahwa Katholik inilah agamanya dan tidak ada agama lain. Ia berusaha ikhlas dengan keyakinannya itu, dan berusaha memperbaiki musik agar menjadi sesuatu yang terbaik. Ia mengambil satu pedoman dari ajaran gereja, yaitu : Jika ingin mencapai kedudukan seperti Tuhan, maka berusahalah untuk ikhlas menyelesaikan suatu pekerjaan.

Mulai Mengenal dan Memeluk Islam
Suatu hari di tahun 1975 terjadilah suatu keajaiban, tiba-tiba saja kakaknya yang tertua memberinya hadiah kitab Al-Qur‘an. Walau ia tidak mengerti bahasa Arab, tetapi seolah-olah ada daya tarik yang membangkitkan kembali keinginannya untuk mencari ‘tujuan’ yang belum ditemukannya itu. Ia mencari seorang penterjemah yang bisa menjelaskan, atau memberitahukan padanya, apa isi dari kitab Al Qur’an itu. Dan itulah pertama kalinya ia berfikir tentang Islam.
Sebenarnya bukannya ia tidak pernah mendengar tentang agama Islam sama sekali, tetapi Islam dalam pandangan orang-orang Barat saat itu adalah faham rasialis, dan kaum muslimin hanyalah orang-orang asing yang berasal dari Turki dan Arab walaupun mereka adalah warga negara di Eropa. Orang tuanya berasal dari Yunani, dan pada umumnya, orang-orang Yunani sangat membenci orang muslim Turki. Karena itu sudah sepantasnya kalau ia membenci agama dan keyakinan orang-orang Turki. Tetapi setelah melihat dan memperhatikan ayat-ayat dalam Al-Qur‘an yang telah diterjemahkan itu, ia tidak menemukan adanya larangan bagi siapapun untuk mengetahui isi dari Qur‘an itu sendiri.
Ketika pertama kali membuka lembaran Al-Qur‘an, yang diawali dengan Basmalah, ia langsung terpesona. Disana jelas tercantum nama ‘Allah’ dan dilanjutankan dengan ‘identitas’ lainnya, ‘Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’. Kalimat pendek itu seperti memberikan sepercik kesegaran pada jiwanya yang selama ini gersang. Pada ayat selanjutnya dari surat Al Fatihah itu, yakni Alhamdu lillaahi rabbil ‘alamin, yang artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sekali lagi ia memahami ‘identitas’ ketuhanan itu, dan ia merasakan diri dan jiwanya yang teramat kecil dan lemah, di hadapan Allah SWT.
Dahulu dalam kehidupannya di gereja, mereka mengajarkan bahwa Allah adalah satu dan terbagi menjadi tiga. Saat itu muncul pertanyaan bagaimana terjadinya, tetapi ia tak tahu bagaimana penjelasan yang bisa diterima logikanya. Mereka juga mengatakan bahwa Allah kaum Nasrani itu berbeda dengan Allah kaum Yahudi, dan hal itu tidak bisa diterima akal sehatnya. Bagaimana jadinya kehidupan kalau dua Allah yang berbeda itu ‘bertempur’ berebut kekuasaan, seperti halnya dua raja di dunia yang berperang saling memperebutkan wilayah?
Tetapi baru saja dengan dua ayat Al Qur’an yang dibacanya, seakan-akan ia telah memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan dan kebimbangan tentang ketuhanan, yang menggelayutinya selama bertahun-tahun. Ayat demi ayat selanjutnya, memberinya kegairahan untuk terus membaca dan  mempelajarinya. Semua penolakan dan ‘pemberontakan’ yang sempat membawanya kepada ajaran komunis seolah terpuaskan dengan membaca Al Qur’an tersebut.
Dalam pandangan Cat Stevens, Al-Qur‘an sebagai suatu ‘kitab’, tampak asing dan berbeda dengan kitab-kitab yang pernah dipelajarinya. Didalamnya tidak adanya paragraf atau alenia, atau juga penjelasan seperti yang terdapat pada Al Kitab/Bibel (Perjanjian Lama, Perjanjian Baru) misalnya. Pada Al-Qur‘an tidak tercantum nama pencatat atau penulisnya, semua kalimat dan maksudnya tersusun secara rapi, tidak ada yang saling bertentangan satu sama lainnya. Di semua tempat dalam Al Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Esa. Bukan hanya satu utusan saja, yakni Nabi Muhammad SAW, tetapi semua nabi-nabi yang pernah diutus Allah disebutkan di dalamnya. Mereka semua yang dikasihi Allah dan sejajar derajatnya di sisi-Nya, tidak ada perbedaan di antara mereka. Dari sinilah ia makin yakin dan percaya bahwa Al Qur’an benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul/ utusan-Nya
Setelah membaca dan mempelajari Al-qur‘an selama setahun, ia mulai mencari cara bagaimana ia memahami isinya. ‘Kegairahannya’ untuk belajar membuatnya merasakan bahwa hanya dia sajalah seorang muslim di dunia saat itu, apalagi dengan situasi ‘modernisasi’ kota London. Pada akhirnya, setelah ia makin mantap untuk memeluk Islam, ia pergi ke masjid di London dan mengucapkan dua kalimah syahadah, kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ia mengganti, atau memperoleh nama Islami menjadi Yusuf Islam.
Tetapi begitu kesaksian itu meluncur dari mulutnya, ia merasakan bahwa hal itu adalah ajaran yang berat. Bukan kalimat yang ringan semudah ia mengucapkannya, tetapi menuntut suatu tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas sebagai seorang muslim. Di sisi lain, ia merasa baru terlahir kembali, walaupun segudang beban dan tantangan tampak menghadang di depan mata. Tentulah situasi masyarakat London sangat berbeda dalam menyikapi seorang muallaf seperti dirinya, dibandingkan masyarakat Indonesia misalnya, yang Islam menjadi agama mayoritas penduduknya. Apalagi sebelumnya ia telah dikenal sebagai ‘publik figure’ walau hanya di bidang musik, dalam level yang mendunia.
Cat Stevens, atau kini menjadi Yusuf Islam, memperoleh hidayah karena cukup intensif mempelajari Al-Qur’an, tetapi ketika ia bergaul dengan kaum muslimin lainnya terkadang ia mendapati kenyataan yang berbeda dengan apa ‘tertanam’ di dalam pikirannya. Beberapa dari mereka menunjukkan pada dirinya tentang apa itu Islam tetapi sepertinya ‘berbeda’ dengan gambaran ‘ideal’ yang terlanjur tertanam dalam dirinya ketika mempelajari Al Qur’an, sehingga terkadang ia mengabaikannya. Ketika ia lebih jauh mengamati, ternyata hal itu disebabkan kebanyakan dari kaum muslimin itu lebih banyak memperturutkan hawa nafsu dan kesenangan duniawiah semata. Pengaruh negatif dari pemberitaan dunia barat dan juga beberapa negara muslim ikut mengaburkan hakikat ajaran Islam. Tanpa disadari mereka banyak mendukung pada orang-orang atau golongan atau gerakan yang justru merendahkan Islam.
Seperti halnya ketika ia ‘terpecik’ hidayah untuk mempelajari Al Qur’an, kini ia terdorong untuk mempelajari peri kehidupan tokoh sentral salam Islam Nabi Muhammad SAW, dan dari sinilah ia mendapatkan “inti” dari ajaran Islam. Sejak saat itu ia mengetahui bahwa ‘jalur’ yang maha berharga dalam kehidupan ini adalah Rasulullah SAW dan sunnah-sunnahnya. Keasyikannya dalam mempelajari jalan hidup Nabi SAW membuatnya terlupa akan dunia yang membesarkannya, dunia musik. Ketika suatu hari ia menanyakan pada seorang ulama, apakah ia boleh melanjutkan kehidupannya dalam dunia musik? Beliau menasehatkan untuk berhenti saja, katanya, ”Musik akan mengambil sebagian besar waktumu untuk berdzikir kepada Allah, dan hal itu adalah sesuatu yang amat berbahaya bagimu.”
Yusuf Islam mematuhi nasehat itu, ia benar-benar meninggalkan dunia musik dan terjun dalam dunia dakwah Islamiah. Semua kekayaan dan hartanya yang telah terhimpun sangat banyak selama berkarir dalam dunia entertainment itu, kini digunakannya untuk merambah jalan dakwah, jalan amar ma’ruf nahi munkar, jalan menyebarkan Islam, dan jalan menuju kepada Allah SWT.

Disunting dari : Yusuf Islam : Bagaimana saya memeluk Islam
Swaramuslim.net, Journey to Islam, 28 Apr 2005 - 7:34 am (1.074)

Selasa, 22 April 2014

Leoni Fatimah (Putri Wong Kam Fu), Terpesona dengan Alunan Adzan dan Al Qur’an

Terlahir dengan nama Pek Kim Lioe, pada 22 Oktober 1953 di Batu, Malang, Jawa Timur, dalam pergaulan sehari-harinya ia dipanggil dengan nama Leoni. Kalau kemudian ia dikenal dengan nama Putri Wong Kam Fu, tidak lain karena ia adalah cucu dari seorang ahli Astrolog terkenal bernama Empeh Wong Kam Fu, yang di kemudian hari ia juga ‘mewarisi’ ilmu tersebut.
Leoni adalah putri tunggal dari pasangan Pek Sek Liang dan Ani, sebuah keluarga WNI keturunan Cina. Sejak kecil ia dididik dalam lingkungan Nasrani, mulai SD hingga SMA, tetapi mereka tinggal di perkampungan muslim. Walaupun demikian, pergaulan dan interaksi mereka dengan warga sekitarnya sangat erat. Mereka sudah menganggap keluarga Leoni seperti saudara sendiri, sehingga sejak awal ia telah merasakan adanya persamaan dan persaudaraan dalam Islam. Dan dari sini pulalah sedikit demi sedikit ia mulai mengenal ajaran mereka.
Sebelum menamatkan SMA-nya, Leoni telah dipinang dan kemudian menikah dengan Gabriel Dela Dorolatta Mustar, seorang pemuka Nasrani yang berasal dari Nganjuk. Mustar adalah seorang guru sebuah SMP di Batu, dan mereka tetap tinggal di lingkungan yang sama hingga ia mempunyai beberapa orang anak.
Suatu ketika Leoni dan suaminya sedang menonton televisi mengenai Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) yang disiarkan langsung dari kota Pontianak (Kalbar). Saat acara berlangsung, mereka menatap dengan penuh perhatian, tetapi tetap membisu saja, seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tetapi tiba-tiba suaminya berkata, "Leoni, bagaimana kalau kita masuk Islam?"
Pertanyaan yang sangat tiba-tiba ini membuat Leoni kaget, tetapi ia tetap membisu sambil menatap suaminya. Pertanyaan seperti itu sepertinya telah menjadi ‘penantiannya’ sejak lama, walau mungkin hanya tersimpan di alam bawah sadarnya. Suatu pertanyaan atau ajakan yang tanpa disadarinya sangat diharapkannya muncul. Dan ketika hal itu benar-benar terlontar, pertanyaan itu terasa memberikan kedamaian. Ada kesejukan dalam batinnya saat itu.
Sesungguhnya sudah lama Leoni merindukan sebuah kedamaian. Sebelumnya, ia pernah merasakan suatu kedamaian ketika mendengar suara adzan magrib dan subuh dari sebuah masjid yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Alunan suara yang memanggil orang islam untuk segera shalat ini, sering membuatnya resah. Diam-diam ia mencari tahu, sesungguhnya rahasia apa yang ada di balik suara yang menggetarkan hatinya itu. Tanpa diketahui suaminya, ia mulai mempelajari buku-buku agama Islam yang dibelinya diam-diam. Terkadang, tanpa rasa malu dan sungkan ia mendatangi tokoh-tokoh agama di kampungnya, dan bertanya berbagai hal yang berkaitan dengan Islam.
Perubahan yang terjadi pada Leoni sepertinya tidak lepas dari perhatian kakeknya, Empeh Wong Kam Fu. Karena itu suatu kali beliau memperkenalkannya dengan Haji Masagung (almarhum), seorang pengusaha muslim keturunan Cina dan juga teman kakeknya itu sejak kecil. H Masagung memberinya dua buah buku agama yang berjudul : “Dialog Islam dan Kristen” dan “Sejarah Islam Tionghoa”.
Setelah membaca dan mempelajari dua buku itu, pengaruhnya terhadap keimanannya ternyata cukup besar. Tetapi semua kegiatannya (mempelajari Islam) dan perubahan perasaannya (terhadap keimanannya) sengaja disembunyikannya. Tak pernah sedikitpun ia membicarakannya dengan suaminya, karena ingin menjaga perasaannya. Bagaimanapun juga suaminya itu berasal dari keluarga Nashrani yang terkemuka, tentunya apa yang dilakukan dan dirasakannya itu akan ‘mencoreng’ nama baik keluarga besarnya.
Rasa simpati kepada orang Islam dan ajarannya makin tak tertahankan ketika kakeknya, Empeh Wong Kam Fu meninggal dunia. Kendati kakeknya seorang Tionghoa yang beragama lain, ternyata yang datang melayat dan membantu mengurus jenazah justru orang Islam setempat. Mereka dengan sukarela dan ikhlas membantu tanpa melihat latar belakang suku dan agama. Hatinya makin terpesona dengan kekerabatan orang Islam setempat. Rasanya, saat itu juga ia ingin mengutarakan kepada suaminya, apa yang selama ini dipendamnya, tetapi ia masih bisa menahannya.
Ternyata suaminya diam-diam juga mengamati kegiatan orang Islam di sekitar rumah tinggalnya. Ia sangat terharu pada keikhlasan masyarakat dalam membantu keluarga besar istrinya yang tengah mendapat musibah. Puncaknya, adalah ketika ia mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an saat menonton siaran MTQ Nasional di Pontianak melalui tayangan televisi, kemudian melontarkan ajakan untuk memeluk Islam kepada Leoni.
Tentu saja Leoni menyambut gembira ajakan suaminya itu, dan ia menyampaikan apa yang selama ini tersimpan dalam perasaannya. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk menemui Haji Masagung. Tetapi sesampainya di Jakarta, mereka tidak mendapat sambutan ‘gegap gempita’ dari beliau sebagaimana membludaknya perasaan dan semangat mereka untuk memeluk Islam. Dengan tenang beliau berkata, "Bila hendak menjadi seorang muslim sejati, syaratnya harus berani menderita dan mati atas nama Islam. Dan, kalau kalian mau masuk Islam, tak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Cukup melalui KUA (Kantor Urusan Agama) setempat saja."
Setelah bertemu Haji Masagung dan mendapat nasehat-nasehat yang cukup menyejukkan hati, mereka segera pulang ke Malang. Sesuai saran teman kakeknya itu, mereka menemui Pak Kasdri, modin (modin=imamud-diin, pimpinan agama) yang juga menjadi muadzdzin di masjid. Kedatangan mereka disambut dengan sukacita. Wajah Pak Kasdri berseri-seri saat mendengar niat kami masuk Islam. Esok harinya, Pak Kasdri mengajak mereka ke kantor KUA Kecamatan Batu. Disana kami dipertemukan dengan staf KUA, Bapak Nursyasin Masdrah. Oleh beliau mereka diimbau untuk berpikir dan mempertimbangkan masak-masak. Namun, keinginan untuk masuk Islam sudah menggebu-gebu, terutama suaminya. Ia langsung menanyakan berbagai hal kepada Pak Nuryasin. Semua pertanyaan suaminya dijawab dengan sabar olehnya.
Untuk memantapkan hati, mereka terus berdialog dengan Pak Kasdri dan seorang ulama dan tokoh Islam di Malang, KH Suyuthi Dahlan (Almarhum). Sebagai orang tua, mereka juga memberitahukan dan mengajak anak-anaknya untuk memeluk Islam. Ajakan itu ternyata direspon positif oleh anak-anaknya, dan mereka bersedia untuk memeluk Islam bersama orang tuanya.
Setelah beberapa kali berkonsultasi, akhirnya taufik dan hidayah itu datang juga memantapkan mereka untuk memeluk Islam. Sebelum mengucapkan syahadat, mereka sekeluarga mempersiapkan diri. Leoni membersihkan seluruh tubuhnya, begitu juga dengan suami dan anak-anaknya. Leoni mengenakan kain panjang dan baju kebaya tertutup dan memakai kerudung. Suaminya mengenakan kain sarung, baju putih lengan panjang dan kopiah. Demikian juga dengan anak-anaknya. Tepat bakda (setelah) shalat Jumat, di Masjid an-Nur, Kidul Pasar Malang, pada tanggal 12 Juli 1985, mereka sekeluarga dibimbing KH Suyuthi Dahlan, mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Sungguh, Leoni tak dapat menahan rasa harunya, tanpa terasa air matanya menetes. Ia sangat bersyukur, dan tiba-tiba saja hatinya yang selama ini gelisah menjadi damai.
 Setelah menjadi seorang muslimah, namanya diganti menjadi Fatimah, nama pemberian itu digabungkan dengan nama lamanya, sehingga menjadi Leoni Fatimah. Nama suaminya diganti menjadi Mohammad Mustar. Keharuan kian menjadi setelah ikrar selesai, Pak Kasdri memberi selembar sejadah kepadanya, dan HA Zalaroa, memberi suaminya kopiah. Para tetangga menyambut gembira dan bersyukur atas keislaman mereka sekeluarga. Untuk menambah dan memperkokoh keimanan, Leoni bersama suami dan anak-anaknya mulai aktif belajar membaca dan menulis Al-Qur'an serta mengikuti berbagai pengajian. Leoni mendirikan mushala di rumah untuk shalat berjamaah, dan pada tahun 1987 ia dapat menunaikan ibadah Haji.
Leoni mulai aktif berdakwah setelah terpilih menjadi Ketua Yayasan Karim Oei Jawa Timur, pada 26 November 1995. Dalam memimpin yayasan ini ia mencanangkan salah satu program untuk mengajak warga keturunan untuk mengenal dan memahami Islam secara lebih mendalam, yaitu lewat kegiatan rutin belajar membaca dan menulis Al-Qur'an dan berbagai macam pengajian.

Disunting dari : Putri Wong Kam Fu (Pek Kim Lioe) : Tergugah Acara MTQ Nasional
Swaramuslim.net, Journey to Islam, 01 Nov 2003 - 11:03 pm (1.005)

Craig Abdurrohim Owensby, Dari Pendeta menjadi Pendakwah

Craig Owensby, seorang lelaki kelahiran Chicago, Illinois AS pada tahun 1961, tumbuh dan berkembang dari keluarga Kristen Ortodoks yang taat, bahkan ayahnya, Walter Owensby seorang pendeta. Walau ia lulusan MBA dari University of Wisconsin, Madison, pada tahun 1986, ditambah kemudian pendidikan kependetaan di Princeton Theological Seminary, Princeton, NJ, 1991, dan meraih gelar Master of Theology (Teologi Kristen tentunya), tetapi ketika percik hidayah Allah SWT menyapanya, akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Islam.
Menyabet gelar MBA dan bekerja di sejumlah perusahaan prestisius di negerinya, Amerika Serikat, serta menikmati kesenangan duniawi yang berlimpah, tak membuat Craig Owensby bahagia. Bathinnya hampa. Dia butuh pencerahan rohani sebagai pengimbang. Setelah bertahun-tahun merintis karir, Craig memutuskan belajar Injil, teologi, dan keislaman di Princeton Theological Seminary, Princeton, NJ. Beberapa tahun kemudian ia menjadi pendeta mengikuti jejak sang ayah yang pendeta Katolik di sebuah gereja di New York dengan 6.000 pengikut.
Meski sukses sebagai pendeta, kebahagiaan dan ketenangan bathin yang ia dambakan belum juga berpaling kepadanya. Craig justru kian resah dengan konsep ketuhanan Yesus yang ia pelajari. Pengetahuan yang ia miliki membuatnya tak percaya bahwa Isa adalah Tuhan, "Injil menjelaskan bahwa Isa adalah tuan, bukan Tuhan," begitu kesimpulan yang diambilnya setelah mendalami Injil; selama bertahun-tahun.
Di tengah kerisauan hatinya, pada suatu hari secara tak sengaja perhatiannya tertuju pada seorang kawannya bernama Nashir, yang tergabung dalam kelompok sepakbola Pakistan. Baginya, Nashir berbeda dengan anggota tim lainnya yang dinilai lebih pintar, disiplin, dan baik. Bagi Craig, Nashir dianggap mencerminkan sosok Muslim yang sebenarnya. Hal ini membuatnya tertarik dengan konsep Islam, yang kemudian berlanjut dengan keputusannya berhenti menjadi pendeta, untuk bisa mempelajari Islam secara lebih intensif. Kemudian ia terjun kembali ke bidang bisnis, di samping terus mendalami Islam secara otodidak.
Percik-percik hidayah Allah datang tatkala dia ditugaskan bekerja di Indonesia sekitar tahun 1997. Craig tinggal di kawasan Muarabaru, Jakarta Utara. Di lingkungan tempat tinggalnya yang baru, dia menemui banyak hal yang sangat menyentuh batin, khususnya kemiskinan dan penderitaan hidup yang dialami masyarakat sekitarnya. Craig tertarik dengan kehidupan anak-anak Muslim di wilayah itu. Menurutnya, walau miskin, mereka hidup dengan penuh kesederhanaan dan tetap mampu tampil bersih serta bahagia.
Sejenak dia teringat pada masa kecilnya ketika masih tinggal bersama orang tuanya di Meksiko dan Kolumbia. Ketika itu ia menyaksikan betapa anak-anak Katolik di sana hidup penuh kekerasan, miskin, dan kotor. Tak ada cerminan ketenangan dan kedamaian dalam hidup mereka. Craig merasakan kedua hal yang bertentangan itu memberinya inspirasi untuk mengetahui dan mempelajari agama Islam lebih jauh.
Waktu demi waktu berlalu, Craig sudah sangat akrab dengan istilah-istilah Islam pada tahun-tahun terakhir, rasanya hanya tinggal ‘gong pamungkas’ yang membawanya untuk memeluk Islam. Suatu ketika ia terbangun di saat subuh, sekitar pukul 04.30 WIB, dan itu sangat tidak biasa baginya. Saat terbangun itu ia bergumam, "Sungguh menakjubkan."
Ketika keluar dari kamar, dia melihat salah satu dari anak asuhnya sedang melaksanakan salat subuh dengan tenang dan khusyuknya. Craig tertegun. Sejenak dia memandangi anak asuh itu, dan merasa amat tersentuh. Lagi-lagi ia bergumam, "Anak sekecil ini kok bisa disiplin terhadap agamanya? Kenapa pula dia harus salat?”
Kemudian Craig mengambil dan mempelajari dengan serius buku Karen Armstrong yang berjudul The Life of Muhammad. Sebuah buku tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sangat bagus dan realistis, meski penulisnya bukan seorang muslim. Ia mempelajari dengan giat makna salat dan juga tentang Islam yang lebih luas. Akhirnya dia memutuskan pilihan dan jalan hidupnya, akan masuk Islam. "Saya mau mengucap kalimat syahadat," ujarnya.
Ketika tekadnya sudah sangat bulat, dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pengajian di daerah Kemang, tempat pengajian khusus para bule. Oleh salah satu pengasuh, yakni Ustad Rickless, ia disuruh banyak membaca hadits dari buku hadits yang sangat besar. Craig agak bingung; kenapa harus ada hadits? “Kenapa saya harus membacanya? Bukankah Alquran pun sudah sempurna?” Begitu pikirnya.
Tetapi karena sang ustad telah memerintahkan, ia memutuskan untuk membacanya, sampai akhirnya ia dapat mengerti bahwa hadits itu memang penting. Craig sudah sampai pada ‘action’ sebagai muslim yang benar, yakni melakukan salat lima waktu, walaupun ia belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pernah mengatakan kepada beberapa koleganya di Amerika pada Desember 1998, bahwa ia akan memeluk Islam. Itu setelah beberapa kali ‘mondar-mandir’ ke Jakarta.
Proses pencarian kebenaran Islam terus dilakukan, sampai pada suatu satu hari di bulan Mei 2001 ia mengikrarkan diri menjadi Muslim di Pengajian Rahmania, Kuningan, dengan bimbingan Ustadz Rikza Abdullah. Ketika ditanyakan alasan keputusannya memeluk Islam, ia berkata, "Saya ingin menjadi orang yang tahu kebenaran. Saya bersedia menjadi Muslim karena ingin kebenaran. Bisa saja kebenaran itu menyusahkan, tapi saya percaya dengan kebenaran itu."
Setelah memeluk Islam, Craig ‘melengkapi’ namanya dengan identitasnya sebagai muslim tanpa meninggalkan nama aslinya, Craig Abdurrohim Owensby. Setahun kemudian ia menikahi seorang gadis Sunda Lilis Fitriyah.
Sejak keislamannya itu, Craig makin yakin dengan ajaran Alquran bahwa manusia dilahirkan suci dan menjadi khalifah di bumi. Ia berkata, "Saya sekarang telah menjadi khalifah bagi Allah. Awalnya saya Islam hanya dengan membaca, berpikir, dan berbicara, tapi belum mempraktekkan. Sekarang saya memutuskan untuk menjalankan Islam secara serius."
Meski telah serius memilih Islam sebagai keyakinannya, tetapi muallaf ini merasa masih harus 'berjuang' menjadi Muslim yang sebenarnya. Pasalnya, ia tak biasa bangun pagi. Kini ia harus melaksanakan shalat Subuh ketika biasanya di waktu sama masih tertidur pulas. Namun, akhirnya ia merasa bersyukur mampu menaklukkan ego dirinya. Baginya, dapat menjalankan shalat Subuh dengan baik merupakan tolok ukur kemampuannya melaksanakan shalat wajib yang lain. "Pertama kali shalat Subuh saya sangat puas dan senang. Setelah itu melaksanakan shalat-shalat yang lain menjadi enteng."
Tidak hanya sampai di situ, rupanya Craig belum merasa menjadi Muslim kaffah sebelum dapat mendakwahkan Islam. Menurutnya ada dua fase yang ia jalani, yaitu menjadi Muslim dan berdakwah. Kini ia sedang melakukan fase kedua itu sambil berbisnis, yakni dengan melontarkan sebuah program layanan ‘Al-Qur’an Seluler”. Craig yakin sarana dakwahnya ini bakal bermanfaat karena tak membeda-bedakan seseorang. "Sebagai gerakan Qurani, program dakwah ini saya jadikan sarana berkompetisi dengan evangelis (para misionaris dan pendakwah Kristen). Kita harus mempunyai umat yang kuat imannya dan lebih baik dari umat non-Muslim."

Disunting dari : Craig Abdurrohim : Islam Jalan Hidupku
Swaramuslim.net, Journey to Islam, 25 Oct 2003 - 4:48 am (1.003)