Buku ini menampilkan kisah orang-orang yang memperoleh Hidayah Allah dengan berbagai cara dan keadaan, kemudian memutuskan untuk memeluk Agama Islam. Semoga dapat memotivasi kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Disunting dari swaramuslim.net dan berbagai kitab lainnya.
Selasa, 02 Mei 2023
Minggu, 30 April 2023
Jumat, 28 April 2023
Rabu, 26 November 2014
F.X. Khoe Hok Tiong, Hidayah Lewat Pesona Kopiah Hitam
Khoe Hok Tiong alias Pudjihato,
seorang karyawan swasta di Jakarta ,
ia mempunyai nama baptis Fransiscus
Xaverius dan salah satu aktivis Gereja Persekutuan Doa Oikumene. Di tempat
kerjanya ia dipercaya sebagai Sales and Marketing Manager. Tetapi, sekitar
tahun 1989, karirnya banyak mengalami kemunduran. Sebagai manajer penjualan dan
pemasaran, ia dituntut untuk mengambil keputusan strategis, dan karena sesuatu
hal, terkadang keputusan yang diambilnya sering tidak tepat. Ternyata semua itu
karena faktor rumah tangga, ketenteraman rumah tangganya turut mempengaruhi
karir dan produktivitasnya.
Rumah tangga yang dibinanya sejak
tahun 1986 dan sudah membuahkan dua orang putra, mengalami goncangan. Sebenarnya
perkaranya kecil dan sepele, tetapi ternyata bisa menjadi besar, dan rumah
baginya seperti di neraka saja rasanya. Karena persoalan rumah tangga itu, ia tidak
konsentrasi dalam bekerja, dan produktivitasnya menurun. Sebagai kompensasi, ia
sering keluyuran sekadar mencari ketenangan batin. Gereja yang sekian lama
menjadi tempat yang paling damai ternyata tidak mampu menepis kegundahan hatinya.
Ia justru menjadi semakin jauh dari gereja. Karena sama-sama keras, akhirnya ia
tidak mampu lagi mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Meskipun dalam agama
Katolik bercerai itu diharamkan, dengan terpaksa dan berat hati ia menceraikan
istrinya, apalagi kedua anaknya masih kecil-kecil. Bulan Januari 1991 ia resmi
bercerai, dan kedua anaknya dibawa oleh istrinya ke Kutoarjo, Jawa Tengah. Sebagai
ayah, ia sangat mencintai anak-anaknya, tetapi apa mau dikata, mungkin ini
sudah menjadi suratan takdir, dan ia hanya bisa ‘menyerahkan’ nasib kedua anaknya
kepada Tuhan.
Antara bulan Januari sampai Juni
1991, ia merasa dirinya menjadi orang kafir, karena selama enam bulan itu ia tidak
pernah lagi menginjakkan kakinya ke gereja. Tetapi selama masa
"kekafiran" itu, banyak hal aneh yang dijumpainya. Seperti ketika
pada suatu sore pada bulan Mei 1991, ia berkunjung ke Toko Buku Wali Songo di
daerah kwitang, Jakarta Pusat. ia heran melihat begitu banyak orang keluar
masuk toko buku tersebut. Ketika ia terus masuk ke bagian dalamnya, ia melihat
banyak orang yang membersihkan diri di kran air. Saat itu ia tidak tahu kalau
orang-orang tersebut sedang berwudhu untuk menunaikan shalat maghrib. Tidak
lama kemudian terdengar seruan keras (suara azan) dari bagian atas. Meskipun ia
sudah pernah ke sana
dua tahun yang lalu, tetapi baru hari itu ia tahu kalau di toko buku itu ada
masjidnya.
Sesaat dalam kebimbangan, mungkin
didorong oleh rasa keingin-tahuannya, ia memutuskan untuk bergabung dengan
orang-orang tersebut. Ia ikut ‘meniru’ berwudhu, setelah memperhatikan beberapa
orang mengambil wudhu. Setelah itu, iapun ikut shalat magrib berjamaah. Sampai
sejauh itu, tidak satu pun di antara jamaah yang mengetahui bahwa ada seorang
non muslim yang ikut shalat berjamaah bersama mereka. Peristiwa yang terjadi
tanpa rencana dan begitu spontan itu, ternyata membuat kesan yang amat mendalam
pada jiwanya. Ia baru memahami betapa luhurnya ajaran Islam itu. "Untuk
menghadap Tuhannya, orang Islam harus benar-benar dalam keadaan bersih," Begitu
kata hatinya ketika merenungkan peristiwa itu di malam harinya.
Beberapa hari berikutnya, pandangan
matanya seperti ada yang mengarahkan. Selama beberapa hari, secara kebetulan, ia
selalu saja menjumpai masjid di mana pada saat itu bertepatan dengan kumpulan
orang yang sedang berwudhu. Semua yang dilihatnya itu terekam jelas di otaknya
dan pada malam harinya selalu menjadi bahan renungannya. Pada suatu hari ia melihat
seseorang memakai kopiah hitam. Sebenarnya itu hal yang biasa dan telah sering
dialaminya, tetapi, entah mengapa, pada hari itu ia begitu terpesona. Ia
bergumam, "Alangkah agung dan wibawanya orang itu. Aku heran, mengapa
tidak semua orang Islam berkopiah. Alangkah baiknya kalau semua orang Islam
memakai kopiah, biar tampak agung dan berkharisma!!”
Beberapa hari kemudian ia kembali
menjumpai hal yang sama, akhirnya ia benar-benar tertarik dengan kopiah hitam.
Singkatnya, ketika singgah ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta , ia
membeli kopiah hitam dan langsung memakainya. Orang-orang di pusat perbelanjaan
itu tampak heran, ada seorang bertampang Tionghoa, dengan penampilan khas
seorang eksekutif muda dan berdasi, tetapi memakai kopiah. Dilihat seperti itu,
tentu saja membuatnya salah tingkah. Sejak itu ia selalu berkopiah, kecuali di
rumah dan di kantor, karena masih merasa malu.
Tentang kopiah ini, ada satu
peristiwa yang menarik. Ketika ia singgah di pusat perbelanjaan di Jalan Gajah Mada , ia
berpapasan dengan seorang gadis cantik. Sebagai manusia normal, timbul naluri
kelelakiannya untuk menggoda gadis itu. Apalagi ia seorang duda yang kesepian,
tentulah amat wajar. Tetapi, ketika ia ingin menghampiri sang gadis, secara
refleks tangannya bergerak menyentuh kopiah yang sedang dipakainya, dan spontan
batinnya berkata, "Aku kan
muslim."
Niat menggoda sang gadis batal, tetapi
yang membuatnya kaget bercampur heran, mengapa hatinya dapat berkata "Aku
muslim"? Padahal pada saat itu ia belum lagi bersyahadat. Kejadian yang
seperti itu berulang dua kali, di tempat yang berbeda, dan malam harinya ia
tidak dapat tidur. Ia heran memikirkan suara hatinya yang menyatakan dirinya
seorang muslim, padahal ia belum menjadi seorang muslim. Tetapi ia bersyukur, dengan
kopiah itu jiwanya seperti punya kendali, jalannya seperti terbimbing ke satu
arah yang pasti.
Pada suatu senja menjelang isya,
ketika ia pulang ke rumah di daerah Jatinegara, kebetulan ia melewati sebuah
masjid. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba kakinya melangkah masuk ke halaman
masjid. Dan ia kembali ikut berwudhu dan kemudian shalat bersama jamaah masjid
itu. Malam harinya ia kembali merenung tentang keanehan-keanehan yang dialaminya.
Tetapi, kali ini keinginannya hanya satu, ingin masuk Islam.
Setelah melewati proses berpikir
yang cukup panjang akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi ke sekretariat PITI
(Pembina Iman Tauhid Islam) di Masjid Istiqlal, Jakarta . Setelah mendapat informasi, tekadnya
tambah mantap. Ada
suatu keanehan yang terjadi setelah ia pulang dari Masjid Istiqlal. Ketika tiba
waktu magrib, ia mendengar alunan azan yang amat merdu. Setelah azan selesai,
telinganya seperti mendengar bisikan, "Sembahyanglah kamu."
Ketika saya menoleh ke kiri dan
kekanan, tidak ada seorangpun di sekitarnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara
gaib itu. Kejadian seperti itu berlangsung hingga tiga kali, pada waktu dan
tempat yang berbeda. Singkat cerita, pada hari Rabu, 24 Juli 1991, pukul 10.00
WIB, bertempat di sekretariat PITI di Masjid Istiqlal Jakarta, ia mengucapkan
ikrar dua kalimat syahadat.
Setelah resmi menjadi seorang
muslim, ia memutuskan untuk mendalami Islam di Pondok Pesantren Gentur,
Sukabumi, Jawa Barat. Oleh Pak Kiai, namanya diganti menjadi Abdul Rasyid.
Selain mempelajari Al-Quran, ia juga giat berdzikir. Ia berkata, "Sekarang
hati saya benar-benar plong, tanpa beban. Alhamdulillah, saya telah menemukan
kebahagiaan yang sejati!!”[Albaz]
Disunting dari : F.X. Khoe Hok Tiong : Tertarik Kopiah Hitam
Swaramuslim.net, Journey to Islam, Redaksi 01 Nov 2003 - 11:10 pm (1.007)
Hermanus Paulus Poli, Menjemput Hidayah di Penjara
Hermanus Paulus Poli, dari namanya
jelas bahwa ia seorang pemeluk Nashrani, tepatnya Kristen Protestan. Boleh
dibilang keluarganya adalah penganut Kristen yang taat saat itu. Ayahnya seorang
pensiunan sebuah BUMN yang bergerak di bidang perbankan, dan ibunya seorang arkeolog.
Setelah menyelesaikan S1-nya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP),
jurusan ilmu politik di salah satu universitas negeri di Indonesia, ia berangkat
ke Gold Coast University, Australia untuk menyelesaikan S2. Namun baru saja
duduk di semester tiga di tahun pertama, kuliahnya terganggu karena ulahnya
sendiri. Memang, sejak kuliah ia sudah mencandu narkoba. Ia tinggal bersama
tiga orang kawan di apartemennya, yang semuanya pecandu narkoba.
Di kampus, teman-temannya ada juga
yang beragama Islam, dan ia tidak pilih-pilih dalam bergaul, termasuk
rekan-rekan muslimnya itu. Ia seringkali terlibat diskusi seputar persoalan
agama dengan mereka, khususnya membicarakan konsep ketuhanan agama
masing-masing. Semula ia tidak menyukai topik diskusi ini, karena sebagai
seorang Kristiani, ia merasa minder dan rendah diri. Dalam hati ia mengakui,
betapa jelas konsep ketuhanan dalam Islam, yaitu Allah Yang Maha Esa. Sangat
jelas bahwa Tuhan itu sebenarnya memang Maha Esa dan Maha Besar.
Setelah berlangsungnya diskusi-diskusi
seperti itu, sedikit atau banyak, timbul keraguan dalam hatinya tentang konsep
ketuhanan Kristiani yang bisa dikatakan membingungkan. Terkadang penganut
Kristiani harus meyakini Yesus Kristus sebagai Tuhan. Namun di sisi lain, Injil
sendiri memuat ayat kalau Yesus sendiri menyangkal kalau dirinya adalah Tuhan.
Dengan terang-terangan Yesus menyuruh untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Satu (ternuat
dalam Yesaya 17: 3). Makin lama keraguannya terhadap ajaran Kristiani,
khususnya ketuhanan, tak dapat dielakkan, baginya konsep Trinitas dalam Kristen
sangat kacau.
Pada suatu kesempatan, Hermanus
mencoba mengambil mushaf al-Qur’an terjemahan milik salah seorang temannya.
Semula ia ingin mempelajari isi al-Qur’an tersebut demi mencari
kelemahan-kelemahan agama Islam, sehingga ia mempunyai ‘bahan’ untuk berdiskusi
dengan mereka. Namun, semakin dalam ia merenungi ayat-ayat al-Qur’an, hatinya
semakin takjub terhadap Islam. Betapa jelas konsep Ketuhanan yang dipaparkan
Islam melalui surat al-Ikhlash, betapa gamblangnya
dialog Allah dan Yesus (Nabi Isa AS ) yang diabadikan dalam surat al-Maidah ayat 116. Dan banyak lagi
ayat-ayat lainnya.
Terlepas dari ‘pengaruh’ Islam
dalam dirinya, akibat pergaulan dengan teman sekamar (se-apartemen) yang
pecandu narkoba, kondisinya di Autralia kian hari kian memburuk. Kecanduannya
terhadap barang-barang terlarang itu makin sulit dilepaskan, dan kuliahnyapun
jadi berantakan. Karena dipikirnya lebih banyak membuang waktu percuma, akhirnya
ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta .
Di Jakarta, Hermanus bersama beberapa
temannya mendirikan usaha di bidang entertaimen dan lebih mengutamakan bidang
promosi (event organizer). Usahanya berkembang pesat, tapi ternyata kecanduannya
terhadap putaw sulit untuk dilepaskan. Sebenarnya seluruh keluarganya sudah
tahu tentang kebiasaan buruknya ini, tetapi mereka tidak mempermasalahkan.
Mereka telah maklum, apalagi ia adalah anak bungsu yang keras kepala.
Berkali-kali ia dibawa berobat ke dokter spesialis dan pusat rehabilitasi
mental untuk menghilangkan penyakit kecanduan ini, namun hasilnya selalu nihil.
Dua atau tiga bulan kemudian selalu saja ia kembali mencandu.
Terlepas dari penyakit
kecanduannya, dan juga terlepas dari keraguannya terhadap ajaran Kristen, khususnya
masalah Ketuhanan, setiap hari Minggu ia selalu pergi ke gereja bersama
keluarganya. Tetapi sayangnya, dalam suasana ‘ibadah’ di gereja, ia tidak
menemukan sesuatu yang dapat menyadarkannya dari ‘kebohongan’ gereja. Ia benar-benar
merasa hampa, apalagi seorang pendeta yang pernah diminta penjelasan tentang
berbagai keraguannya itu tak dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskannya.
Suatu hari di tanggal 12 September
2002, sepulang dari membeli putaw, Hermanus tertangkap oleh polisi, dan digiring
ke Polres Menteng, Jakarta Pusat. Ia diinterogasi dan akhirnya ditahan.
Perasaannya saat itu biasa saja, bahkan tidak ada kekhawatiran sama sekali,
karena ia yakin bahwa keluarganya pasti bisa membebaskannya. Mereka memang
punya relasi yang luas, baik di kepolisian ataupun di birokrasi. Tetapi semuanya
di luar dugaan, usaha keras keluarganya untuk mengeluarkannya dari penjara dan
juga dari jeratan hukum ternyata tidak berhasil. Ia pun mulai ketakutan di
dalam penjara. Setelah hari ketiga sejak penangkapan, ia ditempatkan dalam sel
yang dipenuhi para tahanan. Gelisah, takut, dan marah, semuanya bercampur dalam
dada, tetapi dengan uang, ia bisa mengendalikan para preman di dalam penjara.
Saat hari Minggu tiba ada pendeta
yang datang untuk kebaktian bagi tahanan yang beragama Kristen, iapun turut serta
dalam acara tersebut. Pada malam harinya ia tergerak untuk membaca buku “Malang
Nian Orang yang Tidak Shalat”, milik salah seorang napi yang beragama Islam.
Anehnya, setelah membaca buku tersebut ia merasakan sesuatu yang lain. Tergerak
dalam lubuk hatinya yang terdalam untuk melakukan shalat, walau ia tidak tahu
bagaimana caranya. Keesokan harinya ia membaca di dinding sel yang penuh dengan
coretan tahanan sebelumnya, “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan
apabila kamu berdoa sebanyak kamu bercemas, maka seketika kecemasan itu akan
hilang.”
Tanpa pikir panjang, semua
buku-buku tentang Islam yang ada di kamar itu dipelajarinya, termasuk tata cara
shalat. Ia dapat memahami bagaimana cara shalat dan berwudhu dari sel tahanan
lain. Tentu saja para preman yang beragama Kristen jadi marah pada dirinya,
tetapi ia tidak mempedulikan mereka. Pikirnya, kalau mau ribut, silakan, ia siap
menghadapi mereka. Sejak saat itu ia jadi berani melaksanakan shalat walau
belum mengucapkan ‘kesaksian’ dua kalimat syahadat. Ia yakin, Allah SWT akan
menerima shalatnya, karena merasa telah ber-syahadat di hadapan Allah SWT.
Setelah dua minggu ditahan, masuklah sejumlah tahanan dari Front Pembela Islam
(FPI), dan dari merekalah ia belajar lebih banyak tentang Islam, khususnya dari
Ustadz Ja’far Umar Shiddiq.
Seminggu kemudian Hermanus dikirim
ke rutan Salemba. Ia tetap shalat dan berdoa semoga di sana ia tidak disiksa oleh sesama tahanan,
dan bertemu dengan orang-orang yang dapat membimbingnya. Dan syukur Alhamdulillah
harapan menjadi kenyataan, ia ditempatkan di Blok C, dan di sana bertemu dengan dua orang yang berakhlak
baik. Setiap hari ia mengkaji kitab al-Qur’an terjemahan dan belajar membaca
al-Qur’an. Banyak sekali buku-buku yang dijadikannya referensi untuk mendalami pengetahuan
Islam, antara lain: Menuju Jalan Ke Surga, Di Balik Rahasia Surat at-Taubah,
dan lain sebagainya.
Selama ditahan, setiap hari
keluarganya datang menjenguk. Mereka tetap memberikan dorongan dan dukungan
kepadanya, serta memperlihatkan perhatian yang serius terhadap masalah yang
dihadapinya. Akhirnya diputuskan hukumannya selama satu tahun enam bulan, jauh
lebih ringan dari tuntutan sebelumnya, yakni empat tahun penjara.
Ketika ia merasakan keimanannya
kepada Islam makin kuat, ia bermaksud mengutarakan kepada keluarganya tentang
identitas dirinya sebagai seorang Muslim. Tetapi begitu mengetahui, mereka
sangat marah, ia dimaki-maki, dikatakan telah terpengaruh setan, bodoh, tolol
dan diperintahkan harus kembali ke agama Kristen. Mereka mengancam tidak akan
membesuk dan tidak akan menyuplai apapun. Padahal ‘biaya hidup’ di dalam
penjara sangatlah besar, untuk makan, bayaran wajib pintu, uang kunci mingguan,
dan lain-lain sebagainya. Apabila tidak memenuhi semua itu, ia akan menemui
masalah besar dengan para preman. Ia menjadi bimbang lagi, dan dalam kegalauannya,
ia kembali terjebak memakai putaw. Tetapi bagi keluarganya, hal itu bukanlah
masalah besar, dan juga tidak masalah harus tetap menyuplai kebutuhannya di
penjara asal ia mau kembali ke gereja dan menyatakan dirinya sebagai seorang Kristiani.
Ternyata keimanannya tidak begitu
saja tergoyahkan, tetapi karena terlanjur memakai putauw dalam kebimbangannya
itu, ia terpaksa ‘berhadapan’ dengan para bandar putaw di penjara. Mereka memaksanya
untuk membeli putaw mereka, dan sempat terjebak lagi sebagai pecandu. Tapi itu
hanya berlangsung selama dua minggu, dan Allah menyadarkan dirinya. Ia dengan
tegas menolak ‘memakai’ lagi walau mereka mengancamnya. Kemudian ia berpikir
untuk ‘hijrah’ dari penjara tersebut ke penjara lainnya, agar ibadahnya lebih
tenang dan tidak terganggu dengan ulah para preman dan bandar putaw. Untuk itu,
terpaksa ia menyogok bagian pendaftaran untuk memasukkan namanya dalam daftar
nama-nama napi yang akan dipindahkan ke LP Tangerang.
Dua hari kemudian namanya dipanggil
untuk dikirim ke Lapas kelas I Tangerang. Setelah tiba di Tangerang , ia
menelepon keluarganya untuk menginformasikan kepindahannya ke penjara
Tangerang. Tetapi saat menelepon itu ia juga menegaskan kepada mereka bahwa ia akan
tetap menjadi seorang Muslim, yang meyakini bahwa Allah itu Maha Esa, tidak
beranak dan tidak diperanakkan dan Muhammad SAW adalah Rasulullah (Utusan
Allah). Keesokan harinya, mereka datang ‘membesuk’, tetapi dengan tujuan yang
lain. Begitu bertemu, ia langsung ditempeleng dan diludahi, bahkan hpnya
dirampas. Sejak itu, mereka benar-benar tidak mau menyuplai apapun yang menjadi
kebutuhannya di penjara. Bahkan mereka mengharapkan agar ia mati saja di dalam
penjara agar tidak membuat malu keluarga.
Memang, ketika keimanan telah
begitu merasuk ke dalam jiwa, halangan apapun memang tidak akan bisa
menggoyahkannya. Tekadnya sudah bulat, ia akan tetap pada komitmennya berada di
jalan Allah. Di LP Tangerang kehidupannya sangat begitu sulit tanpa bantuan
keluarganya, ia bagai anak hilang. Terkadang ia bingung, bagaimana harus mandi
tanpa sabun, pasta gigi dan shampo. Makannyapun apa adanya, nasi putih dan
sayur, yang tidak layak dimakan manusia normal. Minumannya pun air mentah tanpa
dimasak sama sekali. Ia berusaha meminimalisasi penderitaannya dengan bekerja
sebagai tukang cuci pakaian orang. Tapi tidak setiap hari ia mendapat order
itu. Sekali mencuci ia dibayar Rp 200 sampai Rp 3000, dan itu hanya cukup untuk
makan sehari saja. Ia ditawari bekerja pada beberapa orang Nigeria dan Tionghoa, namun
konsekuensinya ia harus siap selama 10-12 jam di kamar mereka dengan
mengerjakan apa pun yang mereka inginkan. Memang upahnya cukup lumayan, namun
waktunya untuk Allah akan hilang. Karena itulah ia memutuskan untuk menolak
tawaran kerja tersebut, padahal mereka sangat senang, karena ia bisa berbahasa
Inggris dan Perancis.
Hermanus sadar, sebagai seorang muslim,
ia tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang kafir. Ia yakin bahwa
rezeki sudah ditentukan, karena itu ibadah kepada Allah menjadi prioritas utamanya.
Shalat, mengaji dan memperdalam agama menjadi santapannya setiap hari. Walau
begitu, ia sadar bahwa cobaan memang tidak berhenti sampai di situ.
Tekanan-tekanan mental dari orang-orang non-Muslim, khususnya dari etnis
tertentu terhadap dirinya berlanjut di penjara ini. Beberapa petugas sangat
sinis kepadanya karena berbeda agama denganya. Celakanya lagi, banyak sekali orang
muslim yang tidak taat di penjara ini. Perintah berjamaah hanya diterapkan
dalam shalat, tetapi tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, banyak sekali orang muslim yang murtad karena tidak tahan lapar dan
harus ke gereja (dalam LP) demi untuk mendapatkan sekotak makan, sabun, pasta
gigi, sampho dan obat-obatan.
Seiring berjalannya waktu, gerakan dakwah
mulai muncul di dalam LP. Beberapa napi mencoba membuat kegiatan-kegiatan untuk
memakmurkan masjid dan kegiatan sosial bernafaskan Islam, seperti membuat dapur
umat dan merayakan hari-hari besar Islam. Dalam kesempatan ini ia bergabung
dengan para aktivis dakwah, yakni membuat drugs conselling (bimbingan untuk
menghindari narkoba, red) untuk para pecandu narkoba. Ceramah interaktif
tentang narkoba juga diberikan oleh Prof Dr Dadang Hawari. Dan akhirnya di LP
ini berdiri Pondok Pesantren At-Tawwabin yang santrinya berasal dari kalangan
narapidana. Masjid Baitus Salam yang berada dalam LP juga penuh sesak dengan
para jamaah. Setiap datang waktu shalat, adzan selalu berkumandang. Pembangunan
Masjid pun diperluas hingga menjadi dua ruangan dan dapat menampung 600-700
jamaah.
Hermanus dan teman-temannya
memfokuskan diri pada upaya memotivasi saudara-saudaranya semuslim untuk
memantapkan akidah dan meningkatkan akhlak, dan khususnya untuk menghadang
upaya pemurtadan kaum Salibis yang dilakukan dengan iming-iming materi. Bila bulan
Ramadhan tiba, hampir semua napi muslim berbahagia karena banyak keluarga
mereka yang membesuk. Mereka bisa bermaaf-maafan dan bersenda gurau dengan
keluarga. Jika melihat itu, tanpa sadar air matanya menetes mengingat tidak ada
lagi keluarganya yang datang dengan senyuman, nasihat dan dukungan seperti yang
dulu mereka lakukan kepadanya. Itu hanya karena ia berpegang teguh pada
keislamannya.
Sesekali pada malam hari yang
hening, ia mencoba mengirim SMS kepada keluarganya seraya mendakwahi mereka
agar berkenan mempelajari Islam yang mereka benci, khususnya surat al-Ikhlash dan al-Maidah ayat 116. Ia
sangat berharap, Allah akan membukakan pintu hidayah kepada mereka. Tetapi lagi-lagi
balasan yang diterimanya adalah caci maki. Walau demikian, ia selalu bermohon
semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka. Ia sangat yakin dengan firman
Allah yang menyatakan, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan
melainkan Allah dan minta ampunlah bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang
Mukmin, laki-laki dan perempuan,” (QS Muhammad: 19). Dan berharap, suatu saat
nanti Allah akan menurunkan hidayah pada keluarganya untuk bisa menerima Islam
sebagai agamanya.
Disunting dari : Hermanus Paulus Poli Menjemput Hidayah di Penjara
Swaramuslim.net, Journey to Islam, 22 Nov 2003 - 03:24 pm (1.018)
Ki Manteb Sudharsono, Keajaiban Mencium Hajar Aswad
Bagi orang Indonesia ,
khususnya yang mempunyai minat pada kebudayaan Jawa, tentulah nama Ki Manteb Sudharsono
tidak asing lagi. Ia identik dengan penampilannya yang mantap dalam memainkan
wayang kulit, dan termasuk dalang yang digandrungi dan sangat laris, jadwal
pentasnya sangat padat. Walau bisa dikatakan ‘mewarisi’ pekerjaan wali songo,
khususnya Sunan Kalijaga yang berdakwah menyebarkan Islam dengan pendekatan
budaya Jawa, ternyata pada awalnya Ki Manteb Sudarsono bukanlah seorang muslim,
tetapi beragama Budha. Basis cerita wayang memang berasal dari India dengan
latar belakang agama Hindu, tetapi atas ‘kreativitas’ wali songo, wayang kulit
dengan ‘penampilannya’ yang khas menjadi ‘identik’ dengan Islam, termasuk
munculnya kisah-kisah ‘kembangan’ (variasi) seperti Jamus Kalimosodo, tokoh
punakawan, Dewaruci dll.
Walau bukan
seorang muslim, tetapi lingkungan pekerjaannya Ki Manteb kebanyakan beragama
Islam, dari para niyaga (penabuh gamelan), sinden, dan lain-lainnya, termasuk
juga istrinya. Ia mendapatkan dorongan untuk memeluk Islam dari Gatot Tetuki, putra
keduanya dari istrinya yang kedua. Sebelumnya ia tidak mau memeluk Islam,
karena menurutnya agama Islam itu berat, dan ia tidak mau ikut-ikutan saja.
Ketika usai
menghitankan Gatot, putranya tersebut minta diberangkatkan umrah tetapi
bersama-sama dengan dirinya, sang ayah. Hati Ki Manteb jadi tersentuh, dan ia menganggapnya
sebagai panggilan Allah. Ia merasa seperti diingatkan dan dibangunkan dari
tidur panjang yang selama ia membuainya. Langsung saja ajakan tersebut diterimanya,
sekaligus ia mempersiapkan diri untuk memeluk Agama Islam. Bagaimana ia akan
berangkat Umrah jika ia tidak menjadi seorang muslim dahulu??
Pada hari yang
telah ditetapkan, Ki Manteb mengundang Kiai Ali Darokah (Ketua MUI Solo), H.
Amir Ngruki, H. Alwi, dan kaum muslimin di sekitar tempat tinggalnya untuk
menjadi saksi keislamannya. Setelah itu, sesuai dengan ajakan putranya, ia
melaksanakan umrah pada September 1995. Pada tahun berikutnya, yakni di bulan
April/Mei 1996, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji. Banyak sekali manfaat
yang diperolehnya dari pengalaman-pengalaman tersebut, dan kesemuanya itu
menambahkan kedewasaan berpikir dan pengendalian dirinya.
Pada waktu
beribadah haji terebut, Ki Manteb mengalami suatu kejadian sangat aneh. Usai
melaksanakan rangkaian ibadah haji di Mekah dan bersiap ke Madinah, sesudah Thawaf
Wada' ia ingin sekali mencium Hajar Aswad, tetapi mana mungkin? Ka’bah dan
pelatarannya telah menjadi lautan manusia, hampir tidak mungkin mendekati Hajar
Aswad. Tetapi tiba-tiba, entah dari mana datangnya, muncul seorang anak kecil
berpakaian khas Arab ngawe-awe (mengajak sambil melambaikan tangan) kearahnya. Setelah
Ki Manteb menghampiri, anak kecil itu berkata, "Ahlan...ahlan..." (selamat
datang, selamat datang).
Seperti ada
tarikan kuat yang ia tidak mampu membendungnya, Ki Manteb berjalan mengikutinya,
yang berjalan merunduk karena banyak orang. Anak kecil itu seperti menunjukkan
jalan, belok kanan dan kiri berkali-kali, sampai akhirnya tiba di depan Hajar
Aswad. Ia dapat mencium Hajar Aswad sepuas-puasnya. Ia menangis penuh bahagia
dan bersyukur sekali atas pertolongan anak kecil itu. Beberapa saat kemudian ia
teringat pada anak itu, dan berniat memberikan uang 50 real yang ada di
kantongnya. Tetapi begitu menengok kanan kiri, anak kecil itu sudah tidak ada
lagi. Kalau lari tidak mungkin karena begitu padatnya. Dan tentang siapa dan ke
mana perginya anak kecil itu tetap menjadi misteri dalam kehidupannya.
Setelah memeluk
Islam dan beribadah haji, hubungan Ki Manteb dengan siapa pun tetap terjalin baik
seperti sebelumnya. Demikian pula dengan para niyaga/pengrawit (penabuh gamelan)
rombongan wayang kulit. Sebagian besar niyaga/pengrawit memang sudah beragama
Islam, hanya tiga orang yang belum Islam. Dalam hal ini ia tidak ingin
mempengaruhi atau memaksanya, dibiarkannya saja sesuai dengan keyakinan mereka.
Menurutnya, dalam memeluk Islam tidak boleh ada pemaksaan.
Sebelum memeluk
Islam, jika tidak mendalang seminggu saja, ia selalu merasa was-was, "Aku
nek ra payu, piye?"
Maksudnya, “Kalau
saya sudah tidak laku lagi, bagaimana?” Begitu perasaannya ketika itu. Tetapi
setelah keislamannya, perasaan seperti itu sudah tidak ada lagi. Ia berusaha untuk
taat menjalankan shalat. Hasilnya, ia lebih dapat mengendalikan diri dan selalu
berpikir positif ke pada Allah. Fikirnya, “Kalau memang sudah tidak ada rezeki
lagi buat saya, tentu sudah waktunya Allah memanggil saya. Mengapa pula harus
bingung?
Intinya, pikirannya
sudah sumeleh. Dan pelahan tapi pasti, semua keluarganya mengikuti jejaknya
memeluk Islam.
Setelah memeluk Islam,
ia merasakan keluarganya makin harmonis dan tenteram. Tidak suka bertengkar,
dan tidak ada suasana saling mencurigai. Beberapa kali ia diminta mengisi
pengajian oleh masyarakat, dan semampunya ia penuhi. Bukan dengan maksud
menggurui, tetapi ia merasa itu sebagai kewajiban seorang muslim. Apalagi
sebagai dalang wayang kulit, sedikit banyak ia mengetahui tentang filosofi
cerita wayang, yang sebelumnya digunakan Wali Songo sebagai media dakwah. Dalam
pengajian, seringkali ia menceritakan sejarah hidupnya yang dahulu tidak
karu-karuan, mbejujak (rusak).
Dari pengajian
yang disampaikannya, ada beberapa orang yang akhirnya mengikuti jejaknya, yaitu
memeluk agama Islam. Ketika berlangsung pengajian, terkadang ada jamaah yang
bertanya, apa kalau ceramah itu ia mendapatkan uang saku? Dengan jujur dijawabnya,
“Tidak, kalau mau cari-cari uang, itu sudah saya dapatkan dari mendalang!!”
Setelah menjadi
muslim, ia harus lebih banyak belajar mendalami Islam. Dalam hal ini, di rumahnya
di Karang anyar, ia selalu mendatangkan mubaligh setiap bulannya, seperti Kiai
Ali Darokah, H.Amir, H. Alwi dan yang lainnya, dan mengundang masyarakat di
sekitarnya. Setelah pengajian selesai, ia meneruskannya dengan pentas wayang
yang selalu disisipinya dengan pesan-pesan dakwah. Setelah Islamnya , ia
terobsesi dengan Wali Songo yang menjadikan wayang kulit sebagai media dakwah.
Kali ini ia ingin menjadi ‘pewaris’ Wali Songo, dan menjadikan pekerjaan yang
telah ditekuninya selama bertahun-tahun sebagai media dakwah.
Disunting dari : Ki Manteb Sudharsono : Sudah Mantap dalam Islam
Swaramuslim.net, Journey to Islam, 01 Nov 2003 - 11:07 pm (1.006)
Langganan:
Postingan (Atom)